• Jelajahi

    Copyright © Karawang Channel
    Berita aktual tepercaya

    Kanal Video

    Warga Diteror Kutu, Bulog Sebut Beras Tetap Layak, Akademisi Bongkar Bahaya Tersembunyinya!

    Jumat, 03 Juli 2026

    Warga Diteror Kutu, Bulog Sebut Beras Tetap Layak, Akademisi Bongkar Bahaya Tersembunyinya! Foto: Ilustrasi



    KARAWANG, Karawangchannel.com – Pernyataan Kepala Bulog (Kabulog) Karawang, Rafki Ismael, yang menyebut kutu beras tidak memengaruhi mutu beras menuai tanggapan dari kalangan akademisi. Salah satunya, Wakil Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA), Darso Sugiono, SP., MP..


    Darso mengatakan, secara ilmiah setiap serangan hama pada komoditas pangan, termasuk kutu beras, akan memengaruhi mutu hasil simpan. Dampaknya bisa terlihat dari kondisi fisik beras, kandungan gizi, hingga nilai ekonominya.


    “Kalau ada serangan hama, termasuk kutu beras, tentu kualitas beras akan mengalami penurunan. Baik secara fisik, kandungan gizi maupun nilai ekonominya. Tingkat pengaruhnya tergantung intensitas serangan dan lamanya penyimpanan,” ujar Darso saat dimintai tanggapan, Jumat (3/7/2026).


    Ia menjelaskan, dari sisi fisik, kutu beras menyebabkan butiran beras berlubang, bobot berkurang, muncul serbuk halus, serta membuat tampilan beras menjadi kurang menarik. Kondisi tersebut secara otomatis menurunkan nilai jual beras.


    “Butiran beras menjadi berlubang, bobotnya berkurang, muncul serbuk halus, dan penampilannya menjadi kurang menarik. Itu tentu akan memengaruhi nilai komersial beras,” katanya.


    Menurut Darso, dampak serangan kutu tidak hanya terlihat secara kasat mata. Apabila populasinya tinggi, kandungan nutrisi di dalam beras juga dapat berkurang karena dimanfaatkan hama sebagai sumber makanan.


    “Kalau serangannya cukup berat, kandungan karbohidrat maupun protein di dalam beras dapat berkurang karena dimanfaatkan oleh hama. Jadi kandungan nutrisinya juga bisa mengalami penurunan,” jelasnya.


    Ia menambahkan, berkembangnya kutu beras di tempat penyimpanan dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kadar air beras yang tidak sesuai standar, penyimpanan terlalu lama, wadah yang tidak kedap udara, hingga pengendalian hama yang kurang optimal.


    Karena itu, pengelola gudang perlu menerapkan penyimpanan yang baik, seperti menjaga kadar air beras, melakukan fumigasi secara berkala, menerapkan sistem first in first out (FIFO), serta rutin melakukan pengendalian hama.


    Terkait dugaan serbuan kutu beras yang mengganggu warga di Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Darso mengingatkan agar penyebabnya tidak disimpulkan secara terburu-buru sebelum dilakukan kajian di lapangan.


    “Kalau dikaitkan dengan dampak terhadap kesehatan warga atau sumber kutu berasal dari gudang, itu perlu pembuktian di lapangan. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan tanpa kajian yang lebih mendalam,” tegasnya.


    Sebelumnya, Kepala Bulog Karawang, Rafki Ismael, menyatakan kutu beras merupakan hama sekunder sehingga tidak menyerang komoditas secara langsung dan tidak memengaruhi mutu beras yang disalurkan kepada masyarakat.


    Pernyataan tersebut disampaikan Rafki saat menanggapi keluhan warga Kelurahan Tunggakjati yang mengaku diteror serbuan kutu beras yang diduga berasal dari gudang penyimpanan beras di sekitar permukiman.


    “Kutu beras yang ada merupakan hama sekunder, sehingga tidak menyerang komoditas secara langsung. Sebelum beras disalurkan, kami juga rutin melakukan proses pengolahan dan pemeriksaan kualitas. Karena itu, kami memastikan beras yang diterima masyarakat tetap dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” ujar Rafki.


    Ia juga memastikan seluruh beras yang didistribusikan kepada masyarakat telah melalui proses pengolahan dan pemeriksaan kualitas sehingga tetap layak dikonsumsi. (Red)

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Update