• Jelajahi

    Copyright © Karawang Channel
    Berita aktual tepercaya

    Kanal Video

    Kerap Kebanjiran Karena Saluran Air Rusak, Petani Karangligar Terancam Gagal Panen

    Senin, 06 Juli 2026

    Petani Karangligar, Sahroni. Foto: Sarah Claudia Gustap



    KARAWANG, Karawangchannel.com – Petani di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, mengeluhkan kondisi saluran air dan pintu air yang dinilai tidak berfungsi optimal. Akibatnya, sawah mereka kerap terendam banjir setiap musim hujan hingga mengancam hasil panen.


    Salah seorang petani, Sahroni, mengatakan banjir menjadi persoalan paling berat yang dihadapi petani di Karangligar. Menurutnya, hujan selama dua hingga tiga hari saja sudah cukup membuat air meluap karena saluran pembuangan tidak mampu mengalirkan debit air.


    “Masalahnya ada di saluran air. Begitu hujan dua atau tiga hari, air langsung meluap dan sawah kebanjiran. Airnya tidak cepat surut karena saluran dan pintu air tidak mampu menampung debit air,” ujar Sahroni, Selasa (7/7/2026).


    Ia mengungkapkan, sawah di wilayah Karangligar bisa terendam hingga dua kali dalam setahun. Genangan bahkan dapat bertahan selama hampir sepekan sehingga tanaman padi yang terendam sulit diselamatkan.


    “Kalau sudah terendam tiga sampai empat hari, padi mati karena tertutup lumpur. Tahun kemarin tanaman sudah bagus, tinggal menunggu panen, tapi akhirnya gagal total,” katanya.


    Selain banjir, petani juga harus menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman, seperti sundep dan hama kupu-kupu. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin tinggi karena petani harus melakukan penyemprotan pestisida secara rutin.


    “Kalau hama mulai menyerang, kami harus menyemprot dua sampai tiga kali dalam seminggu. Kalau tidak begitu, tanaman bisa rusak,” ungkapnya.


    Akibat banjir pada musim tanam sebelumnya, hasil panen Sahroni turun drastis. Dari produksi normal sekitar enam hingga tujuh ton per hektare, panennya hanya mencapai sekitar tiga ton.


    Meski demikian, Sahroni mengaku sedikit terbantu dengan membaiknya harga gabah. Jika sebelumnya hanya berkisar Rp4.000 per kilogram saat musim hujan, kini harga gabah mencapai Rp6.500 hingga Rp6.700 per kilogram.


    “Harga gabah memang sudah lebih baik. Tapi kalau panennya gagal karena banjir, petani tetap rugi. Harga bagus tidak ada artinya kalau hasilnya tidak ada,” ujarnya.


    Saat ini tanaman padi miliknya yang ditanam sejak April diperkirakan akan dipanen sekitar satu bulan lagi. Ia berharap cuaca tetap bersahabat agar hasil panen tidak kembali terganggu.


    Sahroni pun mendesak pemerintah segera memperbaiki saluran drainase dan pintu air di Karangligar agar persoalan banjir yang terus berulang bisa diatasi.


    “Yang kami butuhkan bukan hanya harga gabah yang bagus, tetapi juga saluran air yang berfungsi. Kalau saluran dan pintu air diperbaiki, petani bisa lebih tenang menghadapi musim hujan dan peluang gagal panen bisa ditekan,” pungkasnya. (Sarah Claudia Gustap)


    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Update