• Jelajahi

    Copyright © Karawang Channel
    Berita aktual tepercaya

    Kanal Video

    Kisah Engkus, Difabel Pengemudi Ojek yang Kini Punya Usaha UMKM Berkat PHE ONWJ

    Kamis, 13 Agustus 2026

    Kisah Engkus, Difabel Pengemudi Ojek yang Kini Punya Usaha UMKM Berkat PHE ONWJ. Foto: Istimewa



    BANDUNG, Karawangchannel.com – “Hidup teh ternyata ga susah-susah amat.” Kalimat itu terlontar dari Engkus Kusnadi (47), pengemudi ojek pangkalan sekaligus Ketua Kelompok Hasna Mandiri, kelompok difabel binaan Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung.


    Engkus merupakan bapak satu anak. Setiap hari, dia sudah mangkal di pertigaan tak jauh dari rumahnya sejak pukul 05.00 WIB, beberapa saat setelah azan Subuh.


    Aktivitas tersebut telah dijalani Engkus sejak 2019, setelah dirinya menikah. Saat itu, setahun sebelum PHE ONWJ menginisiasi program pemberdayaan difabel melalui program This Ability.


    Sebelum menjadi pengemudi ojek pangkalan, Engkus pernah menjalani pekerjaan yang penuh risiko. Pada awal 2000-an, keterbatasan fisik, kondisi ekonomi, serta pendidikan yang terbatas membawanya menjadi gurandil, istilah lokal untuk penambang emas liar di sejumlah kawasan hutan Jawa Barat.


    Mengikuti sang kakak, Engkus masuk ke dalam lubang tambang berukuran sempit dengan membawa karung kosong, pahat, dan palu. Lorong tambang yang menjadi akses keluar-masuk itu bisa mencapai belasan meter dan mengharuskannya bergerak secara vertikal menuju bagian dalam.


    Kondisi di dalam lubang pun jauh dari kata aman. Kekurangan oksigen menjadi salah satu ancaman yang harus dihadapi para gurandil.


    Untuk menyiasatinya, kelompok Engkus memasang kipas angin berukuran besar di mulut lubang. Udara dari luar dialirkan melalui rangkaian plastik tipis hingga masuk ke dalam lubang tambang.


    Risiko tak berhenti ketika menggali. Saat keluar dari lubang, Engkus harus merangkak perlahan sambil membawa karung berisi batuan yang mengandung urat emas atau urat kuarsa dengan berat mencapai 40 kilogram.


    Namun, hasil yang didapat tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi. Dalam satu karung batuan, rata-rata hanya terdapat sekitar satu gram emas.


    Engkus dan para gurandil bahkan bisa tinggal di dalam hutan selama dua hingga tiga malam. Mereka bekerja dalam kondisi panas dan berkeringat, kemudian tidur dalam kondisi dingin.


    Selain ancaman kecelakaan, para gurandil juga rawan terlibat konflik dengan kelompok lain. Dalam sejumlah kasus, konflik tersebut bahkan dapat berujung pada kematian.


    Seiring waktu, Engkus memutuskan meninggalkan pekerjaan berisiko tersebut dan beralih menjadi pengemudi ojek pangkalan.


    “Saya hanya kantongi uang tiga ribu rupiah untuk biaya menikah,” ujar Engkus mengenang masa awal menjadi tukang ojek.


    Engkus mengaku percaya bahwa rezeki telah diatur oleh Tuhan. Namun, keyakinan itu tetap dibarengi dengan kerja keras.


    Dia juga tidak ingin hidup bergantung pada belas kasihan orang lain hanya karena kondisi fisiknya.


    “Saya malu kalau ada orang yang ngasih ke saya karena saya disabilitas. Saya mau orang malah bangga ke saya. Saya ingin membuktikan, orang seperti kami juga mampu,” katanya.


    Setelah menikah, perlahan kehidupan Engkus mulai berubah. Dia mampu mencicil sepeda motor bebek empat tak berwarna perak yang digunakan untuk mencari nafkah.


    Keterbatasan fisiknya membuat Engkus harus memodifikasi bagian tangki bensin motor tersebut. Beberapa kain dan jaket berwarna hitam dijejalkan di bagian tangki sebagai bantalan tempat dia duduk saat mengantar penumpang.


    Engkus sebenarnya pernah berkeinginan menjadi mitra ojek daring. Namun, keinginan itu terbentur persyaratan kendaraan yang umumnya mengharuskan penggunaan motor matik atau kendaraan keluaran terbaru.


    Bagi Engkus, motor matik sulit dikendarai dengan kondisi fisiknya. Sementara untuk membeli motor keluaran terbaru, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.


    Karena itu, dia tetap memilih menjalani profesi sebagai pengemudi ojek pangkalan.


    Engkus tidak mangkal sepanjang hari. Pada pagi hari, penumpangnya biasanya karyawan pabrik dan anak sekolah.


    Setelah itu, dia menyempatkan pulang untuk sarapan atau pergi ke pasar membeli bahan baku untuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kelompoknya.


    Di sinilah program This Ability dari PHE ONWJ mulai memberikan warna baru dalam kehidupan Engkus dan anggota Kelompok Hasna Mandiri.


    Melalui pendampingan tersebut, kelompok difabel itu mengembangkan sejumlah produk UMKM seperti kecimpring, keripik pisang, dan wedang jahe.


    Produk-produk tersebut dipasarkan secara daring, dititipkan ke warung-warung, hingga dijajakan langsung di pasar setiap akhir pekan.


    Sebelum mendapatkan pendampingan, penghasilan Engkus sebagai tukang ojek tidak menentu. Dalam sehari, dia terkadang hanya mendapatkan Rp5 ribu hingga Rp20 ribu. Bahkan, Rp50 ribu dalam sehari menjadi pendapatan yang jarang didapatkannya.


    Namun, kondisi tersebut perlahan berubah setelah Engkus mendapatkan pembinaan secara intensif dari PHE ONWJ.


    Pendapatannya kini meningkat hingga ratusan persen. Perubahan itu bahkan terlihat dari kondisi rumahnya.


    Engkus masih mengingat bagaimana dulu lantai rumahnya hanya berupa tanah. Kini, lantai rumah tersebut telah berubah menjadi lantai keramik.


    Manager Communication, Relations, & CID Pertamina Regional Jawa, Pinto Budi Bowo Laksono, mengatakan PHE berkomitmen menciptakan ruang yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.


    “Kami menyadari bahwa kawan-kawan penyandang disabilitas seringkali harus berhadapan dengan stigma sosial dan hambatan yang nyata dalam mengakses peluang ekonomi. Namun, di balik tantangan tersebut, kami melihat ada potensi, ketangguhan, dan semangat juang yang luar biasa,” kata Pinto.


    Menurutnya, pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas.


    “Melalui pendampingan ini, kami ingin meruntuhkan batas-batas stigma tersebut. Kami hadir untuk memastikan mereka tidak lagi dilihat dari keterbatasannya, melainkan dihargai karena karya, daya cipta, dan kemampuannya,” ujarnya.


    Saat ini, PHE ONWJ mendampingi 15 penyandang disabilitas yang sebagian besar merupakan penyandang disabilitas mental dan tuna daksa.


    Pendampingan dilakukan secara komprehensif dengan tujuan mendorong para penyandang disabilitas agar mampu mencapai kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.


    Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengembangan produk UMKM yang telah berjalan. PHE ONWJ juga memperluas keterampilan kelompok difabel melalui pelatihan pembuatan tumbler berbahan dasar bambu dan produksi kertas daur ulang.


    Melalui berbagai keterampilan tersebut, para anggota kelompok diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga semakin mandiri secara ekonomi dan sosial.


    Kisah Engkus menjadi gambaran bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk berhenti berjuang. Dari seorang gurandil yang mempertaruhkan nyawa di dalam lubang tambang, hingga menjadi pengemudi ojek dan pelaku UMKM, Engkus memilih terus bekerja dan membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu berdiri dengan kakinya sendiri.


    “Yang penting mah jangan menyerah. Selama masih bisa bekerja, saya akan terus bekerja,” ujar Engkus. (Red)

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Update