• Jelajahi

    Copyright © Karawang Channel
    Berita aktual tepercaya

    Kanal Video

    MPLS Ramah di SMPN 2 Karawang Timur, 528 Siswa Baru Dibentuk Jadi Pelajar Berkarakter

    Kamis, 16 Juli 2026

    MPLS Ramah di SMPN 2 Karawang Timur, 528 Siswa Baru Dibentuk Jadi Pelajar Berkarakter. Foto: Istimewa



    KARAWANG, Karawangchanel.com – SMPN 2 Karawang Timur mengawali Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 dengan pendekatan yang berbeda. Tak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, kegiatan selama lima hari itu difokuskan untuk membentuk karakter peserta didik baru, menanamkan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), serta menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan bebas dari perundungan.


    Sebanyak 528 siswa baru mengikuti hari pertama MPLS pada Rabu (15/7/2026). Tingkat kehadiran mencapai sekitar 99 persen, menunjukkan antusiasme tinggi para peserta didik dalam memasuki jenjang pendidikan baru.


    Kepala SMPN 2 Karawang Timur, Devi Sri Nurani mengatakan, kegiatan hari pertama diawali dengan penyambutan siswa oleh Kepala SMPN 2 Karawang Timur, Devi Sri Nurani, guru dan pengurus OSIS sejak pukul 06.00 WIB. Selanjutnya, siswa mengikuti upacara pembukaan sebelum dikenalkan dengan seluruh warga sekolah.


    "Guru-guru sudah standby sejak pukul 06.00 untuk menyambut anak-anak bersama OSIS. Setelah upacara pembukaan, seluruh guru, tenaga kependidikan, pustakawan, tata usaha hingga wali kelas kami perkenalkan satu per satu supaya mereka merasa lebih dekat dengan keluarga besar SMPN 2 Karawang Timur," ujar Devi.


    Ia mengatakan, pengenalan seluruh warga sekolah menjadi langkah awal membangun kedekatan emosional siswa dengan lingkungan barunya sehingga mereka tidak merasa canggung memasuki masa transisi dari SD ke SMP.


    Menurutnya, secara nasional tema MPLS tahun ini mengusung konsep "MPLS Ramah" sesuai arahan Kementerian Pendidikan. Sementara SMPN 2 Karawang Timur mengangkat tema "Tumbuh dengan Karakter, Berkembang dengan Ilmu" yang diselaraskan dengan identitas setiap rombongan belajar menggunakan nama-nama bunga.


    "Setiap kelas memang tetap 7A, 7B, dan seterusnya, tetapi kami memberi identitas nama bunga seperti Anggrek atau Bougenville. Dari situlah kami mengambil tema tentang tumbuh dengan karakter agar selaras dengan filosofi pertumbuhan peserta didik," katanya.


    Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 2 Karawang Timur, Farijah Umami mengungkapkan, lebih dari sekadar mengenalkan ruang kelas dan tata tertib sekolah, SMPN 2 Karawang Timur menjadikan pembentukan karakter sebagai materi utama pada hari pertama MPLS. Salah satunya melalui pembiasaan budaya 5S yang dinilai mulai memudar di kalangan pelajar.


    "Menurut saya yang paling mendasar justru 5S. Sekarang budaya senyum, salam, sapa, sopan dan santun sudah mulai berkurang. Karena itu kami sengaja menjadikan materi ini sebagai bekal pertama agar anak-anak terbiasa menghormati guru, orang yang lebih tua, dan mampu berinteraksi dengan baik kepada teman-temannya," jelas Farijah.


    Selain itu, pelaksanaan MPLS tahun ini juga mengedepankan tiga prinsip utama, yakni anti-bullying, edukatif, dan inklusif.


    Ia menjelaskan, sekolah melibatkan guru serta pendamping dari OSIS untuk memastikan seluruh peserta didik merasa aman selama mengikuti kegiatan.


    Pengawasan dilakukan bukan dengan membatasi aktivitas siswa, melainkan melalui pendampingan saat mereka berinteraksi, bermain, maupun bekerja sama dalam berbagai kegiatan kelompok.


    "Anak-anak kelas VII masih berada pada masa transisi dari budaya SD ke SMP. Cara bercanda, berbicara, bahkan kebiasaan saling mendorong masih sering terbawa. Karena itu sejak awal kami arahkan agar mereka memahami batasan dalam berteman dan menghargai sesama," katanya.


    Sementara itu, Wakasek Bidang Kesiswaan SMPN 2 Karawang Timur, Ghilman Hizbul Alam menegaskan, tujuan utama MPLS bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menciptakan pengalaman pertama di sekolah yang menyenangkan.


    "Intinya bagaimana anak-anak datang ke sekolah dengan perasaan aman, nyaman, dan bahagia. Kalau mereka sudah nyaman, proses belajar berikutnya akan jauh lebih mudah," ujar Ghilman.


    Ghilman mengatakan, pelaksanaan MPLS tahun ini juga mengalami perubahan dari sisi durasi. Jika tahun sebelumnya berlangsung tiga hari, kini kegiatan dilaksanakan selama lima hari sesuai ketentuan terbaru dari Kementerian Pendidikan.


    Menurutnya, penambahan waktu tersebut dimanfaatkan sekolah untuk mengurangi kesan MPLS yang terlalu padat dengan materi, sekaligus memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.


    "Tahun ini kami tidak ingin anak-anak hanya menerima materi terus-menerus. Yang kami utamakan adalah bagaimana mereka merasa senang terlebih dahulu berada di sekolah, mengenal teman, guru, dan lingkungan belajarnya. Ketika rasa nyaman itu sudah terbentuk, proses pendidikan akan berjalan lebih baik," tuturnya.


    Ia berharap seluruh rangkaian MPLS menjadi fondasi awal bagi peserta didik baru untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, disiplin, serta mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan. (Red)

    Kolom netizen >>>

    Buka kolom netizen

    Berita Update