![]() |
| Dukung Ketahanan Pangan, Pertagas Salurkan Gas 90 MMSCFD ke Pupuk Kujang. Foto: Istimewa |
KARAWANG, Karawangchannel.com – PT Pertamina Gas (Pertagas) mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyaluran gas bumi untuk industri pupuk, termasuk PT Pupuk Kujang di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Analyst Corporate Communication Relation dan CSR Pertagas, Tedy Abadi Yanto, mengatakan penyaluran gas bumi menjadi bagian penting dalam mendukung keberlangsungan industri pupuk yang berperan dalam penyediaan sarana produksi bagi sektor pertanian.
Menurut dia, gas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber energi, tetapi juga menjadi bahan baku utama dalam proses produksi amonia yang selanjutnya diolah menjadi pupuk urea.
“Penyaluran gas bumi untuk industri pupuk merupakan salah satu bentuk dukungan Pertagas terhadap keberlangsungan industri strategis nasional, yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor pertanian dan ketahanan pangan,” ujar Tedy, Selasa (27/10/2026).
Melalui Operation West Java Area (OWJA), Pertagas menyalurkan gas bumi ke Pupuk Kujang dengan volume sekitar 90 MMSCFD (million standard cubic feet per day).
Penyaluran tersebut didukung jaringan pipa transmisi gas bumi yang menghubungkan sejumlah sumber pasokan, di antaranya Pertamina EP, PHE ONWJ, Nusantara Regas, serta jaringan PGN SSWJ.
OWJA mengoperasikan 17 ruas pipa transmisi dengan panjang total sekitar 547 kilometer. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari jaringan penyaluran gas bumi yang menunjang kebutuhan berbagai sektor industri di Jawa Barat.
Tedy menjelaskan, keandalan infrastruktur transmisi menjadi salah satu aspek penting untuk mendukung kontinuitas pasokan gas bumi bagi pelanggan industri, termasuk Pupuk Kujang yang membutuhkan bahan baku secara berkelanjutan untuk menjalankan proses produksi.
Pupuk Kujang memiliki dua plant produksi urea dengan kapasitas masing-masing sekitar 1.725 ton per jam (TPH). Dengan demikian, total kapasitas kedua fasilitas tersebut mencapai sekitar 3.450 TPH.
Besarnya kapasitas produksi itu menggambarkan kebutuhan bahan baku yang signifikan untuk mendukung operasional industri pupuk. Dalam rantai pasok tersebut, Pertagas berperan menghubungkan sumber pasokan gas bumi dengan fasilitas produksi.
“Dengan dukungan infrastruktur transmisi gas bumi, kami berupaya mendukung kebutuhan pelanggan industri agar penyaluran gas dapat menunjang kegiatan operasional mereka,” kata Tedy.
Dukungan Pertagas terhadap industri pupuk tidak hanya dilakukan di Karawang. Perusahaan juga menyalurkan gas bumi untuk mendukung kebutuhan industri strategis di sejumlah wilayah lain, termasuk Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.
Sepanjang 2025, Pertagas mencatat total penyaluran gas bumi secara nasional mencapai 582.724 MMSCF. Capaian tersebut menunjukkan skala layanan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan gas bumi bagi berbagai sektor industri di Indonesia.
Selain menjaga keandalan penyaluran gas bumi, pengembangan konektivitas infrastruktur juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses pasokan ke kawasan industri.
Salah satunya melalui pembangunan Pipa Cirebon–Semarang (Cisem) Tahap II yang diarahkan untuk memperkuat integrasi jaringan transmisi gas bumi di Pulau Jawa.
Menurut Tedy, pengembangan konektivitas jaringan gas bumi diharapkan dapat memperluas akses penyaluran bagi kawasan industri, dengan tetap memperhatikan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur.
Bagi sektor pertanian, keberlangsungan produksi pupuk memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan sarana produksi bagi petani. Karena itu, dukungan terhadap rantai pasok industri pupuk menjadi salah satu aspek yang berkaitan dengan upaya menjaga produktivitas pertanian.
“Pertagas berkomitmen mendukung kebutuhan industri strategis melalui pengelolaan infrastruktur dan layanan penyaluran gas bumi. Kami berharap dukungan ini dapat berkontribusi terhadap keberlangsungan industri pupuk dan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional,” tutur Tedy. (Gelar)
