KARAWANG, Karawangchannel.com – Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karawang menggelar Workshop Event Pariwisata Kabupaten Karawang selama dua hari, 5–6 Agustus 2026, di Sindang Reret Resto Karawang.
Kegiatan yang mengusung tema 'aktivasi program pengembangan destinasi wisata melalui penyelenggaraan event berkelanjutan' tersebut menghadirkan Event Curator & Creative City Mentor Galih Sedayu serta Event Strategist & Mentor Putri Khaira Ansuri, dan diikuti puluhan pelaku destinasi wisata serta penyelenggara event di Kabupaten Karawang.
Kepala Bidang Destinasi Wisata pada Disparpora Kabupaten Karawang, Lusi Asela, mengatakan workshop ini menjadi langkah awal untuk menyatukan potensi besar pelaku industri event lokal agar tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung dalam satu ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, Karawang selama ini telah memiliki banyak event yang sukses menarik ribuan pengunjung. Namun, dampaknya terhadap ekonomi, sosial, maupun lingkungan belum pernah diukur secara menyeluruh.
“Selama ini di Karawang sudah banyak event yang sukses diinisiasi oleh teman-teman EO lokal dan mengundang ribuan pengunjung. Namun, kita belum mengukur dampaknya secara komprehensif, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan,” ujar Lusi, Rabu (5/8/2026).
Ia menegaskan, melalui workshop tersebut Disparpora ingin meningkatkan kapasitas para pelaku event agar mampu menciptakan agenda wisata yang berkelanjutan sekaligus menjadi identitas baru bagi pariwisata Karawang.
“Lewat momentum ini, kami mengumpulkan para pelaku untuk upskilling agar Karawang memiliki event ikonik yang sustainable dan ditunggu-tunggu masyarakat luar daerah, seperti halnya Jember Fashion Carnaval atau Dieng Culture Festival,” katanya.
Lusi menambahkan, pengembangan industri event juga akan dikoneksikan dengan desa wisata dan destinasi terintegrasi agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di Karawang.
“Program ini juga kami koneksikan dengan pengembangan desa wisata dan destinasi terintegrasi sehingga dapat memperpanjang durasi tinggal atau length of stay wisatawan di Kabupaten Karawang,” tambahnya.
Sementara itu, Event Curator & Creative City Mentor, Galih Sedayu, menilai Karawang sebenarnya telah memiliki modal besar dalam membangun industri event. Hanya saja, berbagai potensi tersebut masih perlu disatukan dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
“Di sesi pertama kami bukan langsung memaparkan materi, tetapi mendengarkan dulu. Ternyata kami cukup kaget karena Karawang memiliki begitu banyak potensi event yang bahkan sudah dilakukan bertahun-tahun. Tinggal bagaimana menyusun puzzle yang selama ini masih berserakan agar menjadi satu ekosistem yang saling terhubung,” ujar Galih.
Menurutnya, event tidak hanya berbicara soal penyelenggaraan acara, tetapi mencakup seluruh rantai nilai industri mulai dari proses kreatif, produksi, promosi, pengalaman pengunjung hingga keberlanjutan.
“Kalau berbicara event, bukan hanya soal penyelenggara. Ada penyedia platform ticketing, penyewaan peralatan, produksi, hingga pembuat narasi. Itu semua merupakan bagian dari industri event yang harus tumbuh bersama,” katanya.
Galih mengatakan, pemerintah daerah memiliki peran sebagai fasilitator dan regulator yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan agar mampu membangun industri event yang mandiri.
“Event bukan sekadar agenda tahunan, tetapi strategi pembangunan destinasi. Ketika ekosistemnya sudah tumbuh, pemerintah cukup membuat payung event, sementara satelit-satelit event lahir dari kontribusi para pelaku,” jelasnya.
Ia juga mendorong Karawang menyusun roadmap pengembangan event berbasis data dan potensi lokal. Menurutnya, Karawang memiliki banyak kekuatan yang dapat diangkat menjadi festival unggulan, mulai dari gastronomi, budaya, seni tradisi, hingga konsep walking tour.
“Kalau melihat potensinya, Karawang punya gastronomi, budaya, hingga tradisi yang kuat. Yang penting adalah melihat ke dalam dan mengangkat kekuatan lokal, bukan terus melihat daerah lain,” ujarnya.
Galih berharap ke depan setiap kecamatan di Karawang memiliki event khas yang saling melengkapi sehingga mampu memperkuat identitas daerah.
“Kalau 30 kecamatan di Karawang masing-masing punya event yang unik, itu akan menjadi kekuatan besar bagi pariwisata. Bukan tidak mungkin nantinya Karawang memiliki festival yang masuk Karisma Event Nusantara bahkan mendukung langkah menuju jejaring kota kreatif UNESCO,” tuturnya.
Ia menegaskan, tantangan terbesar dalam membangun industri event adalah komitmen seluruh pihak, mulai dari pemerintah, komunitas hingga sektor swasta.
“PR terbesar adalah membangun komitmen pemimpin, menghilangkan ego sektoral, dan memperkuat tata kelola. Event bukan tentang tata rupa, tetapi tata kelola. Kalau itu bisa dibangun, saya yakin event-event di Karawang akan berdampak dan berkelanjutan,” pungkasnya.
