KARAWANG, Karawangchannel.com – Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) bekerja sama dengan Tirta Medical Centre ditunjuk Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) sebagai penyelenggara skrining kesehatan wanita untuk deteksi dini kanker serviks menggunakan metode pemeriksaan DNA Human Papillomavirus (HPV).
Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) program studi D3 Kebidanan, Kampus 2 UNSIKA, Rabu (7/1/2026). Selain melaksanakan program Kemenkes, kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat dan diikuti oleh sivitas akademika UNSIKA serta masyarakat umum di sekitar Karawang.
Koordinator Program Studi D3 Kebidanan UNSIKA, Lilis Suryani, S.ST., M.KM menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara UNSIKA dan Tirta Medical Centre untuk melaksanakan program Kemenkes RI. UNSIKA dipilih karena memiliki fasilitas laboratorium yang dinilai representatif untuk pelaksanaan pemeriksaan.
“Alhamdulillah kami mendapatkan penawaran kerja sama dari Tirta Medical Centre. Setelah dilakukan survei, fasilitas di Prodi D3 Kebidanan UNSIKA dinilai layak dan memungkinkan untuk pelaksanaan pemeriksaan ini,” ujar Lilis.
Lilis menegaskan, kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata peran dosen dalam pengabdian kepada masyarakat, selain tugas pengajaran dan penelitian.
“Dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga memiliki kewajiban melakukan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu kami melibatkan dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta masyarakat umum,” katanya.
Selain itu, Program Studi D3 Kebidanan UNSIKA juga berkolaborasi dengan Ikatan Bidan Ranting Pendidikan dalam kegiatan ini. Kolaborasi tersebut memungkinkan partisipasi dosen dari institusi kebidanan lain di Karawang, sehingga peserta tidak hanya berasal dari lingkungan UNSIKA, tetapi juga dari berbagai institusi pendidikan kebidanan di wilayah tersebut.
Menurutnya, pemeriksaan HPV DNA merupakan salah satu metode paling efektif dalam mendeteksi virus penyebab utama kanker serviks.
“HPV DNA ini bertujuan untuk mengetahui apakah seorang perempuan terinfeksi virus HPV. Virus inilah yang nantinya berpotensi menyebabkan kanker leher rahim. Dengan deteksi dini, risiko komplikasi berat bisa dicegah,” jelasnya.
Lilis menambahkan, pemeriksaan ini sangat penting karena infeksi HPV pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan gejala. Banyak perempuan tidak menyadari dirinya terpapar virus hingga muncul keluhan serius.
“Jika virus terdeteksi lebih awal, maka bisa segera dilakukan tindak lanjut medis sebelum berkembang menjadi kanker,” tegasnya.
Untuk peserta, UNSIKA memprioritaskan sivitas akademika, seperti dosen, tenaga kependidikan, dan keluarga pegawai. Namun, kegiatan ini juga dibuka untuk masyarakat umum.
“Antusiasmenya sangat tinggi. Tidak hanya dosen dan pegawai, tetapi juga masyarakat sekitar UNSIKA, bahkan ada peserta dari wilayah lain di Karawang,” ungkapnya.
Selain pemeriksaan, tim Prodi D3 Kebidanan UNSIKA juga memberikan edukasi mengenai kanker serviks, faktor risiko, metode deteksi, serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
“Peserta juga diberikan pemahaman tentang berbagai metode pemeriksaan, seperti IVA, Pap Smear, dan HPV DNA. Metode HPV DNA ini relatif lebih nyaman dan hasilnya lebih akurat,” katanya.
Lilis menjelaskan, tidak semua perempuan dapat mengikuti pemeriksaan. Peserta harus sudah menikah atau aktif secara seksual, berusia 20–69 tahun, tidak sedang menstruasi, tidak melakukan hubungan intim dalam 2×24 jam terakhir, serta tidak menggunakan sabun pembersih vagina sebelum pemeriksaan.
Salah satu peserta, Susan Septiani, warga umum yang berprofesi sebagai ahli gizi, mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut.
“Kalau pemeriksaan ini dilakukan secara mandiri biayanya bisa di atas satu juta rupiah. Di sini gratis, sangat membantu kami yang memang membutuhkan,” ujarnya.
Susan menuturkan ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti pemeriksaan HPV DNA dan ia datang bersama suaminya.
Peserta lainnya, Neneng Winarsih, dosen UNSIKA, mengaku awalnya merasa khawatir karena mendengar anggapan bahwa pemeriksaan serviks terasa sakit.
“Ternyata tidak sakit, prosesnya cepat dan metodenya sudah sangat nyaman. Sebelum pemeriksaan juga kami diberikan edukasi,” katanya.
Ia menyebut proses pemeriksaan hanya memakan waktu sekitar satu menit, sementara seluruh alur pelayanan tidak sampai 30 menit.
“Harapannya ke depan kegiatan seperti ini bisa dilakukan lebih rutin dan menjangkau lebih banyak perempuan, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat umum,” pungkasnya. (Red)
