Rekayasa Cuaca vs Cuaca Ekstrim

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Rekayasa Cuaca vs Cuaca Ekstrim

Wednesday, February 5, 2020

Oleh : Dr. (Cd.) Ir. H.M. Sholeh, MM.

BANJIR awal tahun 2020 menjadi kado tak elok di tahun baru. Banjir di Jabodetabek dan Banten telah menjadi kenangan pahit khususnya bagi para korban banjir, tanah longsor dan bencana lainnya. BMKG cepat tanggap dengan memprediksikan banjir susulan selama bulan Januari dan Februari 2020, tetapi prediksi itu meleset! Apakah ini berkat rekayasa cuaca atau modifikasi cuaca dari BPPT? Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)dengan early warning berupa prediksi curah hujan besar pada beberapa periode berikutnya termasuk minggu ke-2 dan ke-3 Januari 2020 khususnya di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya ternyata tidak terjadi.

Curah hujan yang besar tersebut ternyata tak terjadi di wilayah Jabodetabek atau tak sebesar yang diramalkan. Memang pada tanggal 18 Januari sempat hujan agak besar, tetapi tak sebesar awal tahun 2020 yang lalu. Hebatkah dampak rekayasa cuaca? Rekayasa Cuaca Kementerian Ristek dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan sigap melakukan rekayasa cuaca dengan penaburan garam ke beberapa wilayah agar hujan turun sebelum masuk Jabodetabek.

Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak 3 Januari 2020 dan akan berlangsung sampai beberapa minggu tergantung situasi dan kondisi. Rekayasa tersebut dilaksanakan dibawah koordinasi Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC BPPT). Teknologi rekayasa tersebut lebih bersifat modifikasi cuaca agar curah hujan jatuh di tempat lain sebelum jatuh di wilayah Jabodetabek. Memang dalam minggu-minggu ini curah hujan di Jakarta tak sebesar awaltahun baru yang lalu, Adakah dampak rekayasa ini?

Memang cuaca ekstrim akhir-akhir ini ditengarai menyebabkan banjir ibukota danbeberapa wilayah di Jawa Barat, Banten dan beberapa wilayah lainnya. Dampak yangdiakibatkan banjir, tanah longsor dan bencana lainnya di awal tahun telah menyebabkan kerugian yang cukup besar. Prediksi hujan masih akan berlangsung hingga Februari 2020 menjadi peringatan dini bagi seluruh lembaga, instansi dan wilayah yang terdampak. Oleh karena itu langkah TMC BPPT dengan rekayasa atau modifikasi cuaca tersebut dinilai tepat untuk meminimalisir dampak yang diakibatkannya. Alhasil rekayasa cuaca tersebut berdasarkan data-data yang diperoleh ditengarai bisa menurunkan curah hujan wilayah Jabodetabek hingga 44% dari prediksi semula.

Dalam merekayasa curah hujan ini TMC BPPT telah berupaya “menabur awan” jauh-jauh sebelum sampai di Jabodetabek agar turun hujan sebelum sampai Jabodetabek dan sekitarnya. Operasi ini telah diperhitungkan dengan matang-matang berdasarkan kaidah-kaidah ilmu klimatologi dan ilmu lainnya agar dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan. Tim TMC BPPT ini tentunya bekerjasama dengan TNI AU dan pihak terkait dengan operasi taktis dan strategis rekayasa curah hujan penaburan atau penyemaian “garam” untuk memodifikasi cuaca pada ketinggian tertentu.

Cuaca ekstrim perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir telah mengindikasikan cuaca ekstrim di beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan daerah yang hampir 20 tahun tak terkena dampak banjir, kali ini di awal 2020 turut terkena banjir awal tahun. Hal itu terjadi dibeberapa wilayah di Jakarta, Bekasi, Depok, Karawang, Bandung dan beberapa wilayah di Provinsi Banten. Bukan hanya tingginya curah hujan dan banyaknya sampah di sungai atau saluran air, akan tetapi semakin menurunnya daya dukung tanah, air, lingkungan dan perubahan iklim dalam kurun waktu yang panjang sangat berpengaruh terhadap cuaca ekstrim di Jabodetabek dan Banten.

Belum lagi masalah wilayah tangkapan air berupa cekungan air tanah dan situ atau waduk yang ada di wilayah hulu masih belum mampu sepenuhnya dapat mengatur fluktuasi air yang sangat mendadak saat cuaca ekstrim. Beruntung pemerintah telah mengantisipasi dengan disahkannya Undang-Undang
No 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air yang baru disahkan menjelang masa akhir Jabatan DPR periode sebelumnya.

Meskipun belum efektif dampaknya tetapi ada keseriusan Pemerintah untuk mengatur konservasi air, tanah dan lingkungan agar dampak kerusakan lingkungan dapat dikendalikan dalam konteks pengendalian sumber daya air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Diperlukan keterpaduan program konservasi air, tanah dan lingkungan dari hulu hingga ke hilir agar program-program pengendalian Sumber Daya Alam ini dapat bermanfaat tanpa memandang lokasi, regionalisasi atau antar wilayah.

Batas-batas administratif pemerintahan menjadi kurang relevan jika kita mengedepankan kepentingan bersama dalam pengelolaan sumber daya air bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Banjir yang terjadi di wilayah Kemang Pratama Bekasi, atau di Kemang Jakarta Selatan membuka mata kita semua bahwa pembangunan kawasan permukiman di tengah kota tak hanya dapat diatur dari areal yang kecil saja. Jika berpikiran sempit , wilayah ini tak pernah banjir selama hampir 15-20 tahun, tetapi terkena dampak yang cukup parah akibat cuaca ekstrim dan curah hujan yang sangat tinggi. Keterpaduan program dari konservasi tanah, air dan lingkungan di hulu sangat penting artinya sampai di wilayah hilir.

Sudah saatnya diatur mana wilayah konservasi dan mana wilayah resapan atau wilayah waterpond yang harus diantisipasi. Gerakan pembuatan biopori untuk membantu resapan air ke dalam tanah memang perlu digalakkan, akan tetapi tanpa didasari dengan kaidah-kaidah yang benar akan kurang maksimal hasilnya. Adanya indikasi berkurangnya fungsi hutan sebagai areal konservasi tanah dan air menyebabkan curah hujan yang ekstrim turun menjadi tak terkendali. Belum lagi masalah resapan air di berbagai wilayah menjadi minim dan banyaknya proyek infrastruktur yang terkadang masih belum menyambungkan saluran-saluran drainase atau pembuangan yang sangat penting bagi lancarnya penyaluran air jika terjadi penumpukan atau genangan.

Inilah perlunya keterpaduan program dan koordinasi antar seluruh organisasi yang berkompeten. Tak patut disalahkan salah satu pimpinan wilayah atau daerah akibat kejadian ini, tetapi kearifan manusia terhadap lingkungan lebih penting dikemukakan untuk menumbuhkan kesadaran pemeliharaan lingkungan. Fakta bahwa pembangunan infrastruktur memang sangat diperlukan, akan tetapi langkah-langkah konservasi tanah, air dan lingkungan juga perlu diperhatikan agar
keseimbangan alam, air, tanah dan lingkungan dapat tercapai.

Kawasan hutan yang gundul, pembalakan hutan, atau pembangunan permukiman di sektor hulu harus dievaluasi secara komprehensif dan terpadu. Apalagi masalah banyaknya tambang liar atau daerah ekplorasi di kawasan hulu sangat besar dampaknya terhadap hilir. Penataan konservasi bukan hanya tanggung jawab sektoral akan tetapi lintas batas wilayah regional bahkan hingga ke pusat.

Curah hujan yang sangat tinggi mencapai 377 mm/hari pada awal tahun 2020 memang menjadi indikator yang sangat kuat bahwa langkah konservasi di sektor hulu sampai hilir masih belum membuahkan hasil. Masih diperlukan evaluasi, monitoring dan koordinasi antar instansi agar langkah cepat baik jangka pendfek, jangka menengah maupun jangka panjang dapat dilakukan dengan baik, terencana dan terimplementasikan sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi air, tanah dan lingkungan. Arti pentingnya pembuatan waduk, embung atau konservasi situ, danau dan apapun yang dapat menyimpan air baku akan sangat berguna bagi pengendalian air, tanah dan lingkungan. Bagi sektor produksi, air baku dari waduk, situ, danau atau embung bisa digunakan sebagai air baku PDAM atau
sektor pelayanan publik lainnya.

Rekayasa atau modifikasi cuaca memang hanya langkah sesaat dan tanggap darurat bencana, tetapi perlu dipikirkan lebih lanjut untuk langkah konservasi air, tanah, lingkungan dan sumberdaya alam lainnya secara terpadu, komprehensif dan berkelanjutan. Dengan disahkannya Undang-Undang SDA No 17 Tahun 2019 menjadi angina segar bagi pembangunan sumber daya air, keseimbangan alam dan kelestariannya bagi seluruh makhluk dan lingkungannya. Ilmu dan teknologi hanyalah alat, tetapi kearifan manusia kepada lingkungannya dapat menjadi motivasi bagi alam, kehidupan yang aman, nyaman, lestari dan sejahtera. Semoga !