Tidak Bisa Sekolah Karena Banjir, Anak-Anak Karangligar Kirim Surat ke Bupati

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Tidak Bisa Sekolah Karena Banjir, Anak-Anak Karangligar Kirim Surat ke Bupati

Monday, January 13, 2020
KARAWANG - Puluhan anak-anak korban banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat ramai-ramai menulis surat untuk Bupati Karawang Cellica Nurachadiana saat acara trauma healing yang dilaksanakan PWI Karawang dan Bank Jabar. Dalam suratnya itu anak-anak yang didampingi oleh guru-gurunya itu kebanyakan mengeluh karena sekolah mereka kebanjiran hingga tidak bisa sekolah. Mereka meminta  Cellica untuk segera mengatasi masalah banjir di Karangligar hingga sekolah tidak lagi kebanjiran dan anak-anak bisa sekolah seperti yang lain.

"Kami terharu dengan kepolosan mereka mau menyampaikan keluhan mereka secara spontan kepada ibu bupati. Acara ini memang kita gelar untuk menampung aspirasi anak-anak yang menjadi korban banjir. Kami harapkan ibu bupati bisa menerima surat-surat mereka dan juga menjawab apa yang menjadi keluhan anak-anak korban banjir di Karangligar. Harapan kami kepada anak-anak ini bisa sedikit mengurangi kesulitannya setelah melepaskan segala uneg-unegnya," kata Faisol Yuhri, Kordinator acara trauma healing PWI Karawang Peduli, Senin (13/1/20).

Menurut Faisol, dari surat-surat yang ditulis anak-anak korban banjir kebanyakan menceritakan tentang sekolah mereka yang terkena banjir hingga terpaksa diliburkan. Anak-anak meminta kepada Bupati Cellica agar segera mengatasi banjir hingga mereka bisa kembali sekolah. "Bupati harus mendengarkan aspirasi mereka, karena selama ini anak-anak kurang mendapat perhatian dan terkesan dibiarkan. Padahal ketika terjadi banjir mereka mudah stres karena dibawa orang tua mengungsi, tapi tidak ada yang peduli," katanya.

Faisol mengatakan, sebanyak 25 surat dari anak-anak sekolah dasar di dua sekolah diterima oleh panitia. Selanjutnya surat-surat itu akan diberikan langsung kepada bupati agar bisa menjadi perhatian pemerintah. Selain masalah sekolah, anak-anak juga mengeluhkan rumah mereka yang kotor akibat lumpur hingga terpaksa membantu orang tua membersihkan rumah dari pagi hingga malam. "Mereka mengaku bekerja membantu orang tua membersihkan rumah, karena tidak sekolah. Ini harus menjadi perhatian kepada orang tua karena mereka memiliki keterbatasan agar tidak dibebani pekerjaan berat," katanya.  (FW)