Populasi Rajungan Merosot Akibat Kebocoran Minyak, Nelayan Lakukan Demonstrasi

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Populasi Rajungan Merosot Akibat Kebocoran Minyak, Nelayan Lakukan Demonstrasi

Sunday, January 19, 2020
Karawang - Ratusan nelayan rajungan dari pesisir Pasir Putih, Kecamatan Cilamaya Kulon berdemonstrasi menuntut ganti rugi kepada PT Pertamina Hulu Energi. Para nelayan korban pencemaran minyak mentah itu sedang terpukul karena populasi rajungan yang merosot drastis. 

"Sudah tiga bulan, rajungan langka. Paling sekali nangkap hanya dapat dua sampai tiga ekor. Padahal biasanya Oktober hingga Maret itu rajungan melimpah di laut," kata Majudin (36) saat ditemui di Pemda Karawang, Senin (20/1/2020).

Hal serupa dialami oleh Daspin (43), semenjak terjadi pencemaran minyak, pendapatan melaut saat musim rajungan terjun bebas. Sebelum pencemaran, biasanya Daspin bisa menangkap 20 hingga 30 Kg rajungan. Dengan harga rajungan berkisar Rp 40-60 ribu per Kg, Daspin setidaknya bisa mendapat duit sekira Rp 800 ribu per hari.

Namun sudah hampir empat bulan penghasilannya merosot drastis. Penghasilan harian Daspin mencapai Rp 150 ribu. Sebab tak lagi banyak rajungan di perairan Pasir Putih yang bisa ia tangkap saat ini. "Buat solar saja keluar seratus ribu sehari. Ke rumah cuma bawa lima puluh ribu," kata ayah dua anak ini.

Langkanya rajungan di Pasir Putih juga berimbas pada penghasilan buruh kupas rajungan. Seperti yang dialami Turini (58). Untuk mengupas 1 Kg rajungan, ia diupah Rp 10 ribu.

Saat laut normal, ia bisa mengupas setidaknya 10 sampai 15 Kg rajungan. Namun sejak pencemaran terjadi, ia hanya mengupas sekira 1 Kg rajungan sehari. "Dulu per hari bisa dapat Rp 150 ribu. Sekarang paling hanya sepuluh ribu," ungkap Turini.

Masruin, perwakilan nelayan rajungan menuntut Pertamina segera bertanggung jawab untuk pencemaran minyak yang terjadi. Ia berharap, ada perhitungan khusus ihwal besaran duit kompensasi kepada nelayan rajungan. Sebab, kata Masruin, nelayan rajungan keberatan dengan jumlah duit kompensasi yang dibayarkan Pertamina.

"Kami nilai uang Rp 1,8 juta setiap bulan terlalu kecil. Karena pendapatan kami jauh berkali-kali lipat dari itu," kata Masruin saat ditemui usai audiensi di Pemda Karawang.

Masruin juga berharap, Pertamina segera mengganti sejumlah jaring rajungan nelayan Pasir Putih yang rusak. Sebab, kata Masruin, hingga saat ini, jaring rusak para nelayan belum diganti.

Menghadapi tuntutan nelayan, Pemkab Karawang berjanji bakal menyalurkan beras bencana kepada 500 keluarga nelayan yang sedang menderita. "Kami minta pihak desa mendata jumlah orangnya. Setelah itu baru kita salurkan. Sebab cadangan beras kita di Bulog masih banyak," kata Sekda Karawang, Acep Jamhuri. (FW)