Jelang Pilkades dan Pilkada, Praktek Perdukunan Disinyalir Marak Di Karawang

Kategori Berita

Iklan Semua Halaman

Jelang Pilkades dan Pilkada, Praktek Perdukunan Disinyalir Marak Di Karawang

Selasa, 07 Januari 2020
KARAWANG - Praktek perdukunan disinyalir marak terjadi di Kabupaten Karawang menyusul bakal digelarnya perhelatan Pemilihan kepala Desa (Pilkades) serentak dan Pemilihan Bupati dan Wakil bupati Karawang tahun ini.  Maraknya praktek perdukunan terjadi karena sebagian dari masyarakat masih mempercayai, bisa membantu memuluskan keinginan untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu tak perlu heran jika tempat-tempat 'kramat' ramai dikunjungi mendekati pelaksanaan Pilkades dan Pilkada Karawang.

Pengamat budaya yang juga Ketua LSM Lodaya, Nace Permana mengatakan, praktek perdukunan pastinya marak terjadi di Karawang menjelang Pilkades dan Pilkada. Alasannya sebagian masyarakat masih sangat mempercayai praktek perdukunan dalam melakukan berbagai kegiatan, termasuk jika ingin mencalonkan menjadi kepala desa atau bahkan bupati. "Ini tidak bisa ditutupi walaupun dalam prakteknya itu dilakukan secara diam-diam. Saya sendiri pernah mengalami mengantarkan seseorang datang ke rumah seorang yang disebut paranormal agar berhasil menjadi legislatif."kata Nace Permana, Selasa (7/1/2020).

Nace mengaku berdasarkan pengalamannya, banyak dari orang yang dikenalnya selama ini masih mempercayai praktek perdukunan. Meski sebutannya berbeda, seperti orang pintar misalnya, tapi tetap saja itu masih masuk kategori perdukunan. Alasannya, pasien yang datang ke orang pintar harus melakukan ritual khusus, seperti mandi kembang atau lainnya untuk memuluskan niatnya itu. "Kalau sudah pakai ritual segala, itu kan praktek klenik.  Apalagi jika disertai syarat-syarat yang aneh buat saya itu bisa disebut praktek klenik," katanya.

Menurut Nace, Bukan hanya Pilkades saja yang masih mempercayai praktek perdukunan. Bahkan untuk pemilihan bupati dan wakil bupati di Karawang diyakini juga marak praktek perdukunan. Hanya saja praktek perdukunan untuk Pilkada mungkin dilakukan lebih halus dan tidak mencolok. "Mereka kan lebih intelektual jadi itu dilakukan secara halus dan  diam-diam. Tempatnya juga mungkin tidak di Karawang hingga sulit terendus," katanya.  (FW)